Return to site

PT SOLID GOLD BERJANGKA |

Beragam Pandangan Dunia Usaha, Lesukah Ekonomi?

PT ASOLID GOLD BERJANGKA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II-2017 tercatat 5,01%. Bagi sejumlah pelaku usaha, angka ini kurang menggembirakan Apalagi ada kelesuan daya beli di masyarakat.

Konsumsi rumah tangga pada kuartal II-2017 hanya tumbuh 4,95%, lebih rendah dibanding kuartal II-2016 sebesar 5,07%.
Penurunan konsumsi rumah tangga berdampak bagi kinerja keuangan perusahaan ritel di semester I-2017, yang sebagian mengalami penurunan. Karena kondisi tersebut, beberapa perusahaan yang terdaftar di bursa saham, bahkan memprediksi penjualan tahun ini tidak tumbuh dari tahun sebelumnya.
Lalu benarkah terjadi kelesuan ekonomi? Ini yang dirasakan para perusahaan terbuka:
PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk
Perusahaan ritel pakaian ini mengaku merasakan adanya penurunan daya beli masyarakat. Bahkan menurut Direktur PT Ramayanya Lestari Sentosa Tbk, Suryanto, turunnya daya beli masyarakat bukan terjadi sejak tahun ini saja, tapi sejak 2014.
"Sebetulnya problem ekonomi ini sudah terjadi tiga tahun terakhir sejak 2014, 2015, 2016. Sehingga 2015 Ramayana turun sebesar 0,6% dari 2014. Memasuki 2016 meskipun dengan perlambatan ekonomi juga itu Ramayana masih membuka pertumbuhan 5,7%," tuturnya di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, kemarin.
Ramayana masih bisa bertahan, kata Suryanto, lantaran masih melakukan transformasi gerainya. Sehingga pada 2016 masih membukukan kenaikan penjualan sebesar 5,7%.
Namun Suryanto mengaku tidak sependapat penurunan daya beli masyarakat lantaran, adanya pergeseran pola belanja masyarakat melalui online. Sebab pihaknya masih merasakan kenaikan penjualan. Pada tahun ini Ramayana ditargetkan meraup penjualan Rp 8,2 triliun. Angka tersebut sama dengan penjualan tahun lalu. Kendati begitu, Suryanto yakin perekonomian akan membaik di semester dua nanti seiring dengan meningkatnya belanja pemerintah.
PT Indofood Sukses Makmur Tbk
Berbeda dengan Ramayana, PT Indofood Sukses Makmur Tbk percaya penurunan konsumsi masyarakat hanya omong kosong belaka. Ada beberapa kondisi yang membuat data perekonomian seolah memburuk.
Direktur Indofood Sukses Makmur Frangky Welirang menjelaskan, keyakinan perseroan terhadap hal itu bisa dilihat dari bisnis di sektor terigu dengan merek Bogasari. Dia menganalisis memang ada pergeseran dari penjualan terigu.
Ada beberapa pabrik roti berskala kecil yang menjadi langganannya yang tutup. Namun itu lebih disebabkan adanya pergeseran konsumsi di masyarakat kelas bawah.

"Ada usaha-usaha kecil yang tutup, betul. Pengusaha roti yang kelasnya harga Rp 500 sampai Rp 1.000 itu tutup. Kenapa ternyata konsumennya lebih memilih makan mie. Jadi pengusaha kecil mie tumbuh," terangnya. Namun untuk pengusaha roti kelas menengah dengan harga jual produk sekitar Rp 1,500-Rp 2500, kata Frangky ternyata cukup tumbuh usahanya. Hal itu lantaran adanya penambahan langganan dari kaum millennial.

Sementara untuk penurunan konsumsi masyarakat menurut Frangky hal itu lantaran adanya pergeseran waktu masa Lebaran yang maju dari Juli ke Juni. Sehingga secara akumulasi konsumsi masyarakat terkesan melemah.
"Di Juni itu 15 hari saja masa kerjanya. Jadi berbeda dong Juni tahun lalu dengan sekarang. Seolah-olah turun enggak betul juga. Harus dilihat lebih teliti, harus dilihat secara harian juga," imbuhnya.

Memang penjualan bersih PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk mencatatkan penjualan bersih di semester I hanya tumbuh 1,6% menjadi Rp 18,46 triliun. Namun jika dilihat dari penjualan harian meningkat lebih tinggi yakni 7%.
 

PT Astra Internasional Tbk (ASII)

Sementara bagi raksasa perusahaan otomotif Astra Internasional pertumbuhan ekonomi 5,01% biasa saja. Tidak terlalu buruk karena masih di atas 5%, tapi juga tidak menggembirakan.

Namun penurunan konsumsi mayarakat dianggap akan mempengaruhi penjualan kendaraan. Presiden Direktur Astra Internasional, Prijono Sugiarto, memperkirakan, penjualan kendaraan Astra di semester II-2017 tidak berbeda dengan semester I-2017. Meskipun laba bersih lini otomotif Astra Internasional pada semester I-2017 kemarin tumbuh 9% menjadi Rp 4,2 triliun.
 

"Harusnya enggak banyak berbeda dengan semester satu. Perkiraan kami enggak jauh dari Gaikindo yang bilang penjualan tahun ini sekitar 1,05 juta sampai 1,1 juta. Jadi ya flat lah. Walaupun Astra cukup beruntung kemarin bisa tumbuh 9%," imbuhnya.

Penjualan mobil Astra kemarin meningkat 9% menjadi 298 ribu unit. Pangsa pasarnya juga meningkat dari 51% jadi 56%.
Namun penjualan sepeda motor dari PT Astra Honda Motor (AHM) turun 7% menjadi 2 juta unit. Namun pangsa pasarnya naik tipis dari 73% menjadi 74%. Penurunan itu seiring dengan penurunan penjualan sepeda motor nasional sebesar 9% menjadi 2,7 juta unit.

BACA JUGA : SOLID GOLD

All Posts
×

Almost done…

We just sent you an email. Please click the link in the email to confirm your subscription!

OKSubscriptions powered by Strikingly