Return to site

PT SOLID GOLD BERJANGKA |

Puluhan Tahun Berebut Wilayah, Israel dan Palestina Tanda Tangani Surat Perdamaian 24 Tahun Silam

PT SOLID GOLD BERJANGKA - Konflik antara Israel dan Palestina telah terjadi sejak lama. Perseteruan keduanya dimulai pada 1920-an, ketika orang-orang Yahudi dan Arab di Palestina berebut mengklaim wilayah tersebut.

Banyak negara turun tangan untuk membantu menyelesaikan masalah kedua negara tersebut. Namun, baru pada 1990, perdamaian di antara keduanya terwujud. Perdamaian ini tentunya dilakukan sebelum hubungan mereka kembali memanas belakangan ini.

Setelah berpuluh-puluh tahun permusuhan ‘berdarah’, tepat pada 13 September 1993, perwakilan Israel dan Palestina bertemu di Gedung Putih. Mereka bertemu untuk menandatangani surat perdamaian yang dinamai ‘Declaration of Principles’. Surat ini merupakan kesepakatan pertama antara Israel dan Palestina untuk mengakhiri konflik dan berbagi tanah suci antara Sungai Yordan dan Laut Mediterania.

Perjanjian terjadi setelah keduanya beberapa kali melakukan pertarungan. Pertarungan terbesar terjadi pada 1967. Perang selama enam hari terjadi karena Israel menguasai Tepi Barat, Yerusalem Timur, Jalur Gaza, Semenanjung Sinai, dan Daratan Tinggi Golan. Secara permanen, negara itu mengambil dengan paksa Yerusalem Timur dan mendirikan administrasi militer di wilayah-wilayah yang berhasil diduduki.

Israel pun mengajukan syarat jika wilayah-wilayah tersebut ingin dikembalikan. Gaza, Tepi Barat, Dataran Tinggi Golan, dan Sinai dapat dikembalikan asal Arab mengakui hak Israel. Tak hanya itu, Pemerintah Israel juga meminta jaminan tak ada serangan di masa depan. Namun, syarat itu tak dipenuhi.

Setelah perang tersebut, Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) diakui sebagai simbol gerakan nasional Palestina. Ketua PLO, Yasser Arafat, berperan penting dalam kebebasan Palestina. Ia merencanakan serangan gerilya terhadap Israel dari basis PLO di Yordania dan Lebanon. PLO juga mengoordinasikan serangan terhadap orang-orang Israel di dalam dan luar negeri.

Saat itu, gerilyawan Palestina berhasil memprovokasi angkatan bersenjata dan dinas intelijen Israel. Hal ini dilakukan sebagai bentuk balas dendam Palestina terhadap serangan Israel.

Atas segala upayanya, pada akhir 1970-an, Arafat berhasil membuat Palestina kembali diakui dunia. PLO pun diakui sebagai perwakilan sah rakyat Palestina.

Melihat keberadaan Palestina yang sudah diakui dunia, Israel tidak tinggal diam. Kekerasan kembali meningkat pada 1980-an. Orang-orang Palestina pun terlibat bentrok dengan pemukim Yahudi di wilayah Palestina yang diduduki Israel. Serangan juga mulai dilakukan untuk membasmi PLO. Pada 1982, Israel menyerang Lebanon agar mereka melepaskan PLO.

Tak tinggal diam, warga Palestina mulai melakukan pemberontakan atas tindakan yang dilakukan Israel. Pada 1987, warga Palestina yang berada di Gaza dan Tepi Barat melancarkan serangkaian demonstrasi kekerasan terhadap pihak berwenang Israel.

Saat Intifada mengamuk, Yasser Arafat memproklamasikan kemerdekaan Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza pada November 1988. Satu bulan kemudian, dia mencela terorisme, membuat pengakuan untuk mengambil hak Israel, dan memberi wewenang untuk memulai melakukan negosiasi dengan Israel.

Saat itu, Israel menolak untuk membuka pembicaraan langsung dengan PLO. Namun pada 1991, diplomat Israel bertemu dengan delegasi Yordania-Palestina di konferensi perdamaian Madrid. Dalam pertemuan ini, perdamaian untuk kedua negara tersebut dibahas.

Setelah pertemuan itu, keinginan Israel untuk berdamai semakin ditunjukkan. Empat tahun setelah Palestina menyatakan kemerdekaannya, Israel mengangkat pemimpin Partai Buruh, Yitzhak Rabin, menjadi Perdana Menteri (PM) mereka. Pengangkatan ini dilakukan untuk mempercepat perdamaian. Pasalnya, PM Rabin berjanji untuk segera bergerak dalam proses perdamaian.

Tak lama setelah dilantik, ia langsung membekukan permukiman baru Israel di wilayah yang diduduki. Kemudian, negosiasi antara Israel dan Palestina pun langsung digelar. Pada Januari 1993, Israel dan PLO melakukan negosiasi rahasia. Perundingan dilakukan di Oslo, Norwegia.

Beberapa kesepakatan penting pun dibuat pada pertemuan tersebut, termasuk kesepakatan damai bersejarah yang dilakukan pada 13 September 1993.

Pada 13 September 1993, Menteri Luar Negeri Israel, Shimon Peres, dan Pejabat Luar Negeri PLO, Mahmoud Abbas, menandatangani Declaration of Principles di Gedung Putih. Surat itu membahas Pengaturan Interim Self-Government. Kesepakatan tersebut menyerukan penarikan pasukan Israel dari Jalur Gaza dan Kota Yerikho di Tepi Barat. Selain itu, mereka juga bersepakat membentuk sebuah pemerintahan Palestina yang pada akhirnya diberi wewenang atas sebagian besar Tepi Barat.

Kesepakatan itu dipimpin langsung oleh Presiden Bill Clinton. Lebih dari 3.000 orang termasuk mantan Presiden George Bush dan Jimmy Carter, takjub saat menyaksikan Arafat dan Rabin berjabat tangan sebagai bentuk persetujuan. Pagi itu, kedua musuh itu bertemu untuk pertama kalinya di Gedung Putih.

Dalam sambutannya, Rabin, mantan Jenderal Angkatan Darat Israel, mengatakan bahwa peperangan yang terjadi di negaranya selama ini sudah cukup. Saat ini, menurutnya waktu yang tepat untuk menghentikan perang karena sudah banyak orang yang menjadi korban.

"Kami tentara yang telah kembali dari pertempuran yang diwarnai dengan darah, kita yang telah melihat saudara dan teman kita terbunuh di depan mata kita, kita yang telah berperang melawanmu, orang-orang Palestina. Kami katakan kepada Anda hari ini dengan suara yang nyaring dan jernih, cukup darah dan air mata. Cukup!” ujar Rabin, sebagaimana dikutip dari History, Rabu (13/9/2017).

Dalam pertemuan itu, Arafat juga menyampaikan bahwa perdamaian ini merupakan jalan yang tepat. Pasalnya, warga Israel dan Palestina sangat merindukan perdamaian.

“Pertarungan untuk perdamaian adalah pertempuran paling sulit dalam hidup kita. Ini layak atas usaha maksimal kita karena tanah damai merindukan perdamaian yang adil dan komprehensif,” tutur pemimpin gerilya yang telah berpuluh-puluh tahun menjadi sasaran pembunuhan oleh agen Israel itu.

Meskipun ada upaya dari para ekstremis di kedua belah pihak untuk menyabotase proses perdamaian dengan kekerasan, Israel menyelesaikan penarikan mereka dari Jalur Gaza dan Yerikho pada Mei 1994. Pada Juli, Arafat memasuki Yerikho yang disambut dengan kegembiraan masyarakat Palestina.

Atas usahanya mendamaikan dua negara yang telah berperang selama puluhan tahun itu, Arafat, Yitzhak Rabin, dan Shimon Peres dianugerahi hadiah Nobel Perdamaian untuk usaha rekonsiliasi mereka. Nobel itu diberikan pada Oktober 1994.

Baca Juga Artikel Keren & Terupdate Kami Lainnya Di :

All Posts
×

Almost done…

We just sent you an email. Please click the link in the email to confirm your subscription!

OKSubscriptions powered by Strikingly